SECERCAH HENING
Kamis,19 September 2024
Luk 7: 36-50
Melukis pesona hati yg tersapa,
Memoles indah jiwa yg dahaga,
Menyulam robekan hati yg terluka,
Murnikan harumnya jiwa yg berdosa.
Tersungkur rendahkan hati,
Menaruh harap beban insani,
Memoles harapan suci,
Memeluk luka untuk diampuni.
Di tengah situasi seperti saat ini, tindakan pengampunan dan usaha damai, menjadi sebuah oase atau air segar di tengah kekeringan dan kelesuan hidup. Namun betapa berat dan sulitnya pengampunan itu dilakukan ketika hidup dan pribadi kita merasa paling benar, paling saleh, paling tahu dan paling berkenan di hadapan Allah, seperti kaum Farisi dan Ahli Taurat yang selalu menempatkan diri sebagai kaum ‘high class’ tidak hanya dibidang sosial tetapi juga hal religius. Kenyataan ini menjadi penghalang bagi kaum Farisi menemukan makna betapa dasyatnya nilai pengampunan .Kesombongan religius itu membuat paradikma hidupnya hanya terfocus pada bagaimana mengkritik dan menilai negatif dari pada membangun diri secara asertif. Hal ini jelas dilukiskan dalam Injil hari ini : Ketika orang Farisi melihat Yesus membiarkan wanita pendosa mengurapi-Nya, ia berkata dalam hatinya:
” Jika Ia nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahnya ini, tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah orang orang berdosa”.
Sementara tindakan pengurapan kaki Yesus oleh perempuan yg dijuluki sebagai orang berdosa adalah tindakan heroik yang telah melampaui batas-batas pertahanan martabat sebagai wanita. Bagaimana tidak, ia meminyaki kaki Yesus dgn minyak wangi yg mahal dan mengusapnya dengan rambutnya adalah tindakan perendahan sebagai wanita. Karena rambut adalah mahkota yg diusapkan untuk kaki yg melambangkan penistaan. Dibalik adegan itu ia mengalami titik balik kehidupan yang luar biasa. Perempuan ini dengan kesadarannya telah menyucikan dirinya dan sikap Yesus yg membiarkan semua episode ini terjadi, adalah penyempurnaan rahmat pengampunan. Rekonsiliasi terjadi pertama-tama selain rahmat adalah ketergerakkan atau kerelaan setiap orang mau dan sadar untuk merubah diri. Dasyatnya makna pengampunan ada pada keberanian orang untuk mau bertindak untuk berubah ke jalan yg lebih baik. Tanpa tindakan yg berani dari perempuan itu untuk datang dan menerobos para undangan utk mendekati kaki Yesus, sesungguhnya pengampunan tidak akan terjadi. Pengampunan bukan indahnya kata tetapi sebuah action/perbuatan nyata. Buah kedasyatan dari tindakan pengampunan ini adalah hidup secara baru keluar dari zona dan masuk dalam pengaruh hidup di jalan Tuhan. Cara pandang dan pola hidup lama dibongkar dan mengenakan pola hidup yg baru. Diwujudkan dalam diri perempuan itu dalam rambut yg merupakan mahkota yg semula di puja puja sebagai keindahan yg puncak, saat bertemu Yesus itu semua hanya diletakkan dalam tataran tak ubahnya hanya sebagai kain lap utk kaki Yesus. Dan buahnya ia dihapuskan oleh semua hutang dosanya. Tentu kebahagiaan sempurna yg ia dapatkan.Maka kedasyatan pengampunan membuat wanita ini berani hidup dalam dan dibawah kaki Yesus. Sanggupkah kita juga rela meletakkan diri di bawah kaki Yesus?
Jangan takut untuk mulai menyadari bahwa kita butuh diampuni, bahwa masa lalu dan jalan jalan hidupku sering menggoreskan luka teramat dalam baik bagi diri sendiri dan sesama.Saatnya membenamkan diri di kaki Yesus untuk mohon belas kasihNya.
Contemplating
Marilah kita masuk dalam keheningan batin, rasakan dan resapi Yesus yg menjamah rambut yg ingin kita usapkan sebagai bentuk pengampunan yg ingin kita damba.
Actuating
Perubahan pola hidup macam apa yg ingin kita lakukan sebagai bentuk pertobatan atas dosa kita? agar kita juga layak menikmati hidup dalam Allah.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin matang memaknai pembaharuan hidup tiap hari.
Praying
Tuhan Yesus berilah kami kasih terdalam agar berani hidup dalam semangat kasih dan pengampunan,hingga bersama semua orang kami dapat membangun hidup baru seturut dengan semangat–Mu.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
