Take Care

SECERCAH HENING
Rabu, 18 September 2024

Luk 7: 31-35

Menatap dunia dengan rasa,
Mengada dengan dan berkaca,
Hadir dgn hati di ruang nyata,
Merespon realita dengan jiwa.

Masih segar dalam ingatan kita tentang homili Bapa Suci saat di GBK yang mencuplik pesan St. Teresa dari Kalkuta yg pernah berkata: ” Ketika kita tidak memiliki apapun untuk diberikan, hendaklah kita memberikan ketiadaan itu. Dan ingatlah, bahkan ketika kamu tidak menuai apa -apa, jangan lelah menabur”. Ungkapan ini mengajak kita untuk peduli atas kehidupan di sekitar kita manakala kita tidak mampu berbuat apapun setidaknya kita mampu mendengarkan, melihat dengan cara pandang yg baik, berkata – kata yg meneguhkan dan hadir dari dorongan hati untuk makin peduli bukan menghindari hingga Injil hari ini meneguhkan kita sebagaimana Yesus mengumpamakan angkatan jaman ini seumpama anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan:

“Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis”.

Melalui perumpamaan ini nampaknya Yesus mengajak kita membagun kesadaran untuk peka menangkap tanda – tanda kehidupan. Karena tanda-tanda kehidupan seringkali dipergunakan Allah untuk menyapa manusia secara lebih dekat. Misalnya babtisan Yohanes merupakan persiapan agar manusia bertobat dan layak untuk mengikuti Yesus. Namun yg terjadi Yohanes dibunuh dan dinistakan demikian juga Yesus. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya manusia (diwakili oleh kaum Farisi dan Ahli Taurat) bersikap terbuka dan rendah hati menerima tawaran kasih Allah yg menyapa semua orang. Ketertutupan yg merupakan manifestasi dari kesombongan religius yg merasa diri lebih paham, secara teologis, filosofis tentang Allah, membuat mereka kehilangan kesempatan mengalami sentuhan Allah secara personal. Mereka tidak bisa tersentuh lagi hanya dengan melihat, mendengar, merasa, dan memandang betapa ajaibnya kasih Allah. Sementara Yesus senantiasa mengajari kita menjadi pribadi yg makin ‘peka’ atau peduli atau ‘take care’ atas segala sesuatu yg terjadi dalam hidup, tak lepas dari scenario Allah untuk menyapa dan mengasihi kita. Semakin mengenal dan mencintai Yesus kita makin ditarik untuk menjadi pribadi yg “manjing ajur ajer” artinya pribadi yg luwes, semringah dan terbuka. Terbuka dengan seluruh kesadaran indera untuk mampu melihat,mendengar,merasa,menatap,merindu yang terarah pada Allah. Yang akhirnya mampu melihat Allah dalam segala sesuatu dan segala sesuatu dalam Allah. “Seeing God in all thing, all thing in God” Mampu memandang semua peristiwa kehidupan ini dari kacamata kontemplasi. Maka sikap ‘take care’ mengarahkan kita pada sikap hidup kontemplatif hingga seberat apapun kesulitan hidup ini, tidak membuat kita mudah mengeluh, seburuk apapun kenyataan yg kita hadapi tidak membuat kita marah dan benci, sekeras apapun tuntutan jaman ini, tidak membuat kita kaku dan membeku, namun makin membuat kita peduli dan lembut, mengasah indera untuk makin mengasihi dan mengambil makna terdalam tentang kehidupan ini.

Contemplating
Sadari tiap tarikan nafas kita menjadi saat hening untuk terarah pada kenangan indah kasih Yesus.

Actuating
Membiasakan diri memaknai setiap hari sebagai moment untuk makin peduli.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin matang dan peduli terhadap tanda-tanda kehidupan ini sebagai tanda kehadiran Allah.

Praying
Tuhan Yesus berilah kami kasih terdalam untuk kehidupan ini, agar mampu mendengar dengan nyaring, melihat dengan jernih, memandang dengan tajam setiap realitas kehidupan ini sebagai bagian yg tak terpisahkan untuk merasakan kehadiran-Mu yang senantiasa mengasihi kami.Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *