secercah hening

Personal Integrity

SECERCAH HENING
Selasa,17September 2024

Luk 7: 11-17

Kata yg selaras dengan rasa,
Menubuh dlm tindakan nyata,
Konsisten dalam cara,
Kebaikan jd langkah pertama.

Ada pepatah mengatakan:”Menjadi matang dalam hidup adalah pilihan, tetapi menjadi tua dan mati adalah kepastian”. Itu berarti setiap orang pasti akan mati. Namun jika hal itu terjadi, tidak setiap orang siap menghadapinya. Karena kematian sering menyisakan perasaan luka, ketakutan, kepedihan,keputusasaan, kehilangan dan mungkin depresi. Apalagi jika yang mati adalah orang atau satu satunya orang yang mengisi dan menjadi andalan dalam hidup. Yesus sangat memahami situasi batin seperti itu dalam diri seorang janda, maka
ketika Yesus melihat janda di Naim yg anak tunggalnya meninggal, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya:

“Jangan menangis! “sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan para pengusung berhenti, Ia berkata:”Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! “.Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata.

Hanya pribadi-pribadi yang matang dan memiliki “personal integrity” yang kuat yang mampu menyikapi situasi sulit, bahkan mampu mengatasi titik batas manusia dengan tenang dan bersahaja. Integritasnya terletak dari kespontanan yang terus melahirkan kebaikan yg berantai. Hingga kesedihan, keterpurukan sesama menjadi undangan istimewa untuk berbuat kebaikan. Hal ini mengingatkan kita akan homili Bapa Suci di GBK beberawa waktu lalu dimana hidup kita zaman ini diundang untuk mematangkan 3 sikap yakni : Iman, Persaudaraan dan Belarasa. Ketiga sikap itu membuat kita tidak mudah hancur saat menghadapi krisis atau kematian dalam kehidupan.
Yesus bisa saja tidak peduli terhadap Janda di Naim itu karena bukan tujuan perjalanannya. Namun suara terdalam “inner power” integritasnya selalu mengundang lebih cepat untuk bertindak kebaikan dengan berbelarasa. Dan memvibrasi janda itu secara otomatis untuk tidak menangis. Dan berbuat sebaliknya dengan mempercayakan semu pada kehendak Tuhan.
Untuk jaman ini tentu tidak akan ada lagi Yesus yang membangkitkan dan menghidupkan orang mati lagi. Tetapi inspirasi dan daya Roh Yesus yang membangkitkan kematian dalam hidup, diharap bisa menginspirasi setiap orang beriman kepada-Nya untuk juga menghidupkan Kematian-kematian kecil dalam kehidupan sehari-hari. Hidup dizaman ini makin kering dan panas membuat kehidupan peradaban manusia makin diambang krisis. Kematian itu antara lain:Krisis hati nurani, krisis pengharapan, krisis semangat berbelas kasih, krisis kasih sejati, krisis kesetiaan pada komitmen, krisis kepercayaan, dll. Dengan sabda Injil hari ini kita diajak untuk makin peka menyadari kematian-kematian yg terjadi dalam hidup kita. Dan dengan iman yg teguh kita berharap Yesus berkenan menghidupkannya melalui diri kita yg juga rapuh ini. Dengan menimba kekuatan dalam diri Yesus mari kita juga belajar berbelas kasih terhadap budaya kematian yg melanda sesama kita untuk bisa ikut terlibat menghidupkan pengharapan, kesetiaan, cinta, semangat berkorban dalam diri sesama kita. Moga dengan budaya kasih yg diteladankan oleh Yesus. Mampu menggerakkan kita memiliki semangat belas kasih untuk belajar memghidupkan aneka kematian dalam diri sesama kita.

Contemplating
Sadari tiap tarikan nafas kita menjadi saat hening untuk terarah pada pengalaman belas kasih Allah.

Actuating
Membiasakan diri hening, sadari tiap saat adalah saat untuk menghidupkan kematian-kematian kecil agar hidup makin selaras sengan semangat Tuhan yg berbelas kasih.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku makin matang dalam menghidupkan setiap kematian dalam hidup.

Praying
Tuhan Yesus ajari kami memiliki hati yang berbelas kasih seperti Engkau. Sehingga hidup kami layak menjadi perpanjangan tangan-Mu untuk membangkitkan setiap sisi kematian diri kami sendiri dan sesama kami.Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *