SECERCAH HENING
Senin, 1 Mei 2023
Yoh 10 : 11-18
“Karakter Gembala”
Memandang jauh ke depan,
Menuntun hidup tuk berpengharapan,
Menemani ditikungan jalan,
Menyembuhkan dlm dekapan.
Mengada di saat yg lain sirna,
Mencintai tanpa batas luka,
Gagal jd moment makin percaya,
Ada tuk menanggung segala.
Ukuran mencintai adalah mencintai tanpa ukuran. Ia akan mampu menggapai derita yg tak tertanggungkan, dan kekutan cinta membuatnya lebih dari yang ia sanggup melampauinya. Pengajaran Yesus setelah kebangkitan banyak mengulas tentang roti hidup yakni tubuh-Nya sendiri, dan beberapa hari ini mengajak kita belajar lebih dalam tentang karakter gembala yang menyerahkan nyawaNya sendiri untuk keselamatan domba. Seperti dalam Injil hari ini:
“Akulah gembala yg baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya…”
Beberapa kali di sebut kata ‘gembala yang baik’. Gembala sendiri sebenarnya sudah menunjuk person yg pasti akan selalu care terhadap dombanya namun dengan ditambah kata baik mau menunjukkan sifat dan karakter gembala yg di kehendaki yakni:
1. Memberikan nyawa
Nyawa sebagai lambang batas akhir sebuah pengorbanan dan pemberian diri atau totalitas. Sebagai pemberian paling berharga yg tak bisa terukur nilainya. Jika hal itu dilakukan utk sebuah perlindungan maka yang dilindungi dipandangnya lebih bernilai lagi. Maka siapapun diri kita betapa di mata Allah sangat bernilai yg dibela sampai mati -matian. Apakah kita peduli sebesar itu ? Minimal utk keselamatan jiwa kita ??.
2. Menanggung resiko
Menjadi Gembala selalu hidup di padang belantara kehidupan. Banyak resiko alam badai hidup, binatang buas dan aneka kebuasan lainnya, karakter gembala yg baik, tidak lari dari tanggung jawab jika ada kesulitan. Tetapi bertahan dan berusaha sebesar yg ia tanggung untuk melindungi domba yg menjadi tanggungjawabnya. Apakah kita sanggup menanggung resiko atas hidup dan iman, pilihan pilihan sikap kita dengan madhep, mantep, marep ?
3. Menuntun domba lain
Kesanggupan menjadi gembala yg berkarakter ketika melihat domba dari manapun asal dan jenisnya tak ada pilihan lain kecuali memeluk dalam jangkauan perlindungannya agar semua selamat dan aman dalam kehidupannya. Apakah kita sanggup untuk belajar memeluk kehidupan bersama dengan umat dari golongan apapun dengan kasih
Sebagai teman seperjalanan dalam hidup ?.
4. Mengalir oleh Kasih
Kematangan seorang gembala yg berkarakter, mengalir dari dan berakar oleh kasih. Kesendiriannya, kesepiannya, luka luka hatinya, air matanya, dijadikan saat yg indah untuk berlabuh lebih dalam pada pelabuhan kasih Allahnya. Sanggupkah kita mendasari hidup pada hubungan yg mendalam dengan Allah ???.
Semoga dengan teladan gembala yg baik ini, kita juga dalam peran tertentu lewat tugas rumah tangga dan hidup juga dipanggil menjadi gembala utk orang orang yg dipercayakan kepada kita, mampu menyadari dan membina diri utk menjadi gembala yg berkarakter “Anak domba Allah.” Sehingga hidup kita setiap hari menjadi saat hidup penuh sukacita dalam pelukan hangat Sang Gembala Agung kita.
Contemplating
Marilah kita memperluas ruang keheningan dalam hati kita, untuk mendengar bisikan terdalam gembala Agung kita.
Actuating
Mantapkan sikap batin untuk membiasakan diri makin menjadi pendengar yang baik ditengah kekinian dunia yang gaduh.
Reflecting
Belajar menemukan makna dari keseharianku, telah kujalani sebagai jawaban atas panggilanku?
Praying
Bapa di surga, kami bersyukur boleh mengenali Yesus sebagai gembala yang baik bagi jiwa dan hidup kami. Ajarilah kami peka mendengar suaraNya, agar hidup harian kami menjadi jawaban atas panggilanNya untuk terus kami syukuri. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine,OP
