SECERCAH HENING
Sabtu, 8 Juni 2024
Luk 2: 41-51
Bercermin di ruang hening,
Kegundahan meracik budi pening,
Kelelahan menopang hati bising,
Cinta lembut merangkul dgn bening,.
Titian hari penuh warna,
Meracik rentetan luka,
Namun hati yg mencinta,
Menyimpan dlm hening tnp duka.
Setiap orang punya perkara, setiap orang punya masalah, setiap keluarga juga punya goncangan dan prahara apalagi di tengah pandemi yg tiada akhir dengan pasti. Meski tiap orang punya masalah, namun tidak semua orang sanggup dan terampil mengatasi masalahnya. Kualitas hidup dan kepribadian yg akan menentukan kesanggupan seseorang melewati masalah seberat apapun dengan penuh makna dan menambah kematangan diri. Hal yg sama juga dialami oleh keluarga kudus di Nazaret. Kehadiran Yesus sebagai anak manusia sekaligus Putera Allah, dalam pengasuhan Yusuf dan Maria menyertakan banyak masalah, karena akan banyak kejadian dan peristiwa tidak akan bisa dipahami secara normatif manusiawi. Namun kualitas kedalaman hidup Maria dan Yusuf sanggup melewati persoalan demi persoalan dengan matang dan menyejukkan. Hal ini seperti terungkap dalam kisah Injil hari ini. Disaat Maria dan Yusuf cemas bahwa Yesus menghilang dalam perjalan dari Yerusalem, dan terus mencari dengan kelelahan dan kecemasan yg memuncak sebagai seorang ibu melihat Yesus ditemukan di bait Allah menyapa:
Nak mengapa Engkau berbuat demikian terhdap kami? dengan santai-Nya
Yesus menjawab:”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku? “lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret, tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu dalam hatinya “.
Jika Yusuf dan Maria seperti kita, pasti akan nempeleng terhadap kenakalan anaknya yg beranjak remaja dan tidak tahu diri serta tidak punya sopan terhadap orang tua yg bersusah selama 3 hari berjalan kaki dalam kecemasan dan ketidakpastian. Namun sikap Maria yg keep calm dan menyimpan perkara dalam hatinya membuat semua persoalan terlewati, keruwetan tali persoalan hidup terurai dari sikap Maria yg penuh daya kontemplatif. Mentalitas ini berlawanan dengan mentalitas kita di jaman gadget. Dimana setiap kegundahan hati bukan lagi disimpan dan diurai dalam semangat kontemplatif untuk didialogkan secara batin dengan Tuhan. Tetapi sering kali kita tergoda untuk menulisknnya di medsos. Hasilnya tentu sangat berbeda. Yang disimpan,dikontemplasikan dan dialogkan dengan Tuhan akan membuahkan kualitas hidup dan kepribadian yg matang, hingga makin tenang dan penuh hikmat dalam menyikapi persoalan seberat apapun. Sebaliknya yg memilih setiap kegundahan upload di medsos, bisa menimbulkan simpati banyak follower tetapi tak jarang menimbulkan aneka persepsi dan komen yg bisa menimbulkan kegundahan, kehampaan, kekecewaan yg ujungnya masalah tetap tidak terselesaikan dan kitapun akan terbentuk menjadi pribadi ekstrover yg ampang dan kurang matang dalam menyikapi kehidupan yg lebih berat lagi. Belajar dari sikap Maria sebagai seorang ibu, kematangannya dibentuk dalam keheningan dan kesanggupannya berdialog dengan Tuhan (ning-nang-nung) yg membuahkan inner power yg dampaknya bisa menggoncang dunia orang beriman bukan karena Ia terpilih jadi ibu Yesus dan ibu segala bangsa. Tetapi karena kesanggupannya memeluk dan merangkul beban kehidupan dengan keheningan dan kedalaman hati.
Jangan gelisahkan hidupmu dengan aneka kekecewaan, kesedihan dan kehilangan yg terjadi, tetapi terimalah dan rangkulah aneka kejadian itu dalam hening. Niscaya Tuhan akan memulihkan hatimu dan membawamu pada kematangan hidup.
Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati untuk menyelami misteri kehidupan dalam dialog dengan Tuhan.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah untuk bisa menguduskan hari-hari hidup kita dengan sikap yg penuh damai.
Reflecting
Semangat pembaharuan apa yg akan saya wujudkan mulai hari ini, sebagai pembiasaan hidup dalam terang dan keheningan.
Praying
Bapa yg penuh kasih, syukur atas teladan hidup keluarga kudus semoga semangat iman yg ditunjukkan Maria dan Yusuf menginspirasi hidup kami untuk makin terbuka membina diri dalam kedalaman hati yg hening, hingga hidup kami makin matang dan berkualitas.Karena Kristus Tuhan kami. Amin.
Bunda Maria
Doakanlah kami
Sr. Albertine. OP
