Lambung yang tertikam

SECERCAH HENING
Jumat, 7 Juni 2024
Hari Raya Hati Yesus

Yoh 19 :31-37

Lambung tertikam sbg tanda,
Mati dgn cara berbeda,
Sinalib tanpa dosa.
Untuk bukti Cinta.

Darah dan air muncrat
Tanda hidup dan berkat
Agar sadar bg yg murtad
Bertobat untuk selamat.

Setelah perayaan Paskah. Kalau kita sadari, sederet berkat tiada henti nyata dalam kehidupan kita sebagai orang beriman. Kilas balik kasih Allah setelah kebangkitannya Gereja di hibur dengan hari raya kenaikan Yesus ke Surga sebagai pengharan hidup setelah kematiab, setelah itu Pentekosta kita dikuatkan dengan 7 karunia Roh Kudus agar hidup kita matang, minggu berikutnya Tritunggal Maha Kudus sebagai yang menemani dalam kuasa Allah Bapa Putera dan Roh Kudus kompak mengerubungi kita agar hidup makinsempurna seperti Bapa sempurna adanya. Belum cukup Allah masih membiarkan Yesus memberikan Tubuh dan Darahnya menjadi santapan Rohani kita. Dan hari ini gereja merayakan Hari Raya Hati Yesus yg Maha Kudus, sebuah penegasan bahwa hidup kita diper HATI kan oleh Allah tiada batasnya. Seperti dalam Sabda hari ini St. Yohanes penulis Injil sendiri bersaksi atas apa yg dilihatnya sendiri :

” Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kakiNya, tetapi seorang dari prajurit itu menikam lambungNya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Dan orang yg melihat hal itu sendiri yg memberi kesaksian ini dan kesaksiannya benar “.

Setiap kali merenungkan adegan ini, hati saya terasa tergetar dan miris secara manusiawi. Bagaimana tidak, Yesus sudah cukup total di buat menderita dan dengan diam memeluk semua jenis penderitaan manusia terberat sudah diambil semua oleh Yesus dalam proses penyaliban itu. Dihakimi, dirajam, diludahi,dicambuk, jatuh tertindih salib yg berat, di paku dgn pukulan yg menghujam ulu hati, diangkat dgn disalib dan terakhir sudah mati masih di tikam lambungNya. Kekaguman yg tak terkatakan. Namun menyesak di hati manakala dosaku ikut mengambil bagian terbesar dalam derita Yesus tersebut, karena dosa dan kemanusiaanku terwakili secara sempurna oleh orang orang yg turut menyalibkan Yesus pada saat itu. Jika saya disana pasti saya termasuk kerumunan yg bersikap pengecut dan pecundang. Yg lari terbirit birit dan ambyar. Bahkan tak sanggup memyaksikan lambung KASIH yg tertikam itu. Dalam dialog imaginer saya, sangat ingin raup air dan darah yg muncrat dari lambung itu ketika ditikam. Air itu adalah air kehidupan yang membersihkan dan memberi kelegaan jiwa. Dan darah segar yg menguduskan hidup dari kuasa dosaku. Tanda kasih terbesar sepanjang jaman. Masihkan lambung yg tertikam itu kurasakan kembali kesegaran dari air dan darah yg muncrat ? Layakkan Tuhan hari ini boleh merasakan kembali muncratan air itu.. darah itu. Ijinkan aku hidup dari air yg segar dari lambungMu supaya saya tidak mencari air lain yg membuatku selalu haus. Biarkan aku terus menimba kepenuhan hanya dari padaMu melalui darah yg menetes itu. Tuhan berilah aku hati seperti hatiMu senantiasa.

Contemplating
Marilah kita mengheningkan seluruh indera kita agar makin menemukan keheningan dan kelegaan dalam lambung Tuhan yang tertikam.

Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan dan kuubah agar memiliki hati seperti hati Tuhan.

Reflecting
Apakah hidupku telah kuhayati sebagai buah dari keheningan dan kesegaran hidup dalam menimba air dan darah kehidupan dari lambung Tuhan.

Praying
Allah Bapa yang maha kasih. Ajarilah kami peka menangkap dan merasakan kehadiran-Mu yg dasyat dalam hidup kami setiap hari. Hingga kami boleh menikmati kelegaan, kepenuhan oleh air dan darah yang muncrat dari lambungMu karena Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *