SECERCAH HENING
Jumat, 21 Juni 2024
Mat 6: 19-23
Menelusup lembut di lorong kalbu,
Gelap menangkap realitas baru,
Ada dr ketiadaaan yg tertunda lalu.
Memandang segalanya dgn haru.
Senja jernihkaan mata sayu,
Belajar memandang kehendakMu,
Memvibrasi cahaya terang baru,
Memandang Dia di fajar baru.
Suatu saat saya teringat kenalan dalam perjalanan ke suatu kota, seseorang sangat mengagumi indahnya gunung-gunung yg menghijau dihiasi dengan lembah ngarai yg menyegarkan. Dan berguman wah bersyukur sekali mata ini dimanjakan dengan pemandangan yg indah. Namun teman sebelahnya justru berguman, ah pemandangan yg mengerikan itu kalau tiba tiba longsor semua itu musnah sesaat. Sekejab semua hening, sampai akhirnya tibalah perjalanan itu melintasi gedung-gedung kuno yg unik, artistik dan penuh dengan ornamen aneka peradaban. Seseorang spontan memuji keindahan bangunan itu sampai mulut melongo dan mata membelalak tak mau sekejapun pandangan berlalu, namun orang yg sama berceloteh wiihh… serem pasti itu bangunan banyak Roh jahat yg menghuni, bisa jadi bekas banyak pembunuhan didalamnya sehingga kusam seperti tak berpenghuni. Dari cuwilan kisah yg saya saksikan ini menunjukkan betapa obyek yg sama bisa bermakna sangat berbeda oleh mata yang berbeda. Kejernihan mata memandang, akan mempengaruhi makna dari sebuah realitas. Dan kejernihan mata rupanya lahir dari kedalaman batin yang memantul dan meresonansi dalam bentuk penilaian atas pandangan yang ditangkap dan bisa mempengaruhi pola sikap dan tindakan seseorang. Dan betapa pentingnya peran mata karena mampu mempresentasikan keadaan batin seseorang. Maka Yesuspun juga memberikan ajaran dalam Injil hari ini tentang mata demikian:
“Mata adalah pelita tubuh, jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu”.
Mata adalah pelita tubuh, yang artinya tubuh kita yg dicipta sebagai secitra dengan Allah adalah kudus karena Allah jati diriNya kudus. Maka kalau mata berperan sebagai pelita, dipastikan pelita yg diharapkan memantulkan kekudusan. Namun mata-mata jaman sekarang hanya sedikit yg asli, karena banyak mata kita rusak bukan karena memakai softlens sesuai warna liturgi atau karena minus atau plus akibat nutrisi atau gaya baca yg salah. Tetapi yang dilihat dan disaksikan mungkin lebih banyak kegelapan, dibanding kekuatan kekudusan yg bisa ditampilkan dari energi kejernihan hati. Misalnya banyaknya kekerasan, kejahatan, kemunafikan, kecurigaan, ketidak jujuran, ketidaksetiaan, yg dilihat tanpa dibekali energi dari kedalaman batin yg bisa menjadi filter agar mata bisa memilih nilai positif. Agar mata kita layak menjadi pelita utk tubuh kita yg kudus, perlu terlebih dahulu tubuh dikuduskan dengan diberi nutrisi rohani yg cukup yakni: Firman Allah yg dijadikan santapan, sakramen yg menguatkan, keheningan yang meneduhkan, kebiasaan refleksi yg memurnikan, hubungan intim dengan Allah yg menguatkan dan semangat rekonsiliasi yg menjernihkan. Jika tubuh dan batin kita tiap tiap kali disuplai energi rohani diatas, niscaya mata kita akan mampu merespon setiap realitas dengan jernih, positif dan terang benderang. Apapun yg dilihat mampu memancarkan hidup yg makin terang, mampu menangkap setiap kenyataan dengan positif seturut pandangan Allah sendiri. Sebaliknya jika batin kita gelap kurang asupan gisi rohani maka mata kita akan mudah menangkap atau hanya mampu menangkap apapun yg buruk atas realitas yg nampaknya baik dan indah sekalipun. Jika yg kita lihat buruk secara simultan akan membawa pada pikiran yg buruk atau pola sikap yg sejenis. Namun jika hidup batin kita jernih, mata kita akan menangkap dengan terang dan budi kita jernih pula untuk memantulkan sikap dan tindakan yg baik. Semoga dengan tuntunan sabda hari ini kita makin tergerak untuk menguduskan tubuh kita dengan hal-hal yg baik, agar mata kitapun mampu memandang searah dengan pandangan Tuhan supaya hidup kita tidak hanya terang tetapi mampu menerangi sesama.
Mari mantapkan hati, jangan silaukan mata kita dengan cara pandang yg keruh, sebaliknya mari kita biasakan melihat dengan cara pandang rahmat Allah, agar hidup kita makin terang benderang. Sehingga manakala hidup yg kita lalui gelap kita masih sanggup melaluinya dengan cahaya yg kita miliki.
Contemplating
Mari kita heningkan seluruh diri kita, menimba daya kepenuhan kasih Allah.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar makin tertarik untuk mengusahakan kekudusan.
Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah mampu memberi gisi rohani bagi tubuh dan pelita hidupku.
Praying
Allah Bapa di surga, kami bersyukur atas bimbingan-Mu, melalui setiap sabda yg boleh kami renungkan. Semoga karenanya hidup kami makin berlimpahkan harta yg sejati yg membuat hidup kami makin bahagia dan menjadi terang karena kuasa Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
