Mencintai tanpa ukuran

SECERCAH HENING
Jumat, 24 Mei 2024

Mrk 10: 1-12

Mencintai hingga sunyi,
Berkobar dengan hati,
Hingga senja tuk menanti,
Memberi tanpa batas diri
.

Dicintai adalah rahmat, mencintai adalah tanggapan atas anugerah. Maka Ukuran mencintai adalah mencintai tanpa ukuran. Karena mencintai sesungguhnya adalah pekerjaan rahmat. Bukan semata-mata pilihan, komitment, inisiatip pribadi manusia saja.Karena kita sebagai manusia tidak kuasa menciptakan atau menolak rasa cinta yg timbul dalam batin terdalam. Sejak awal manusia diciptakan pertama tama karena cinta Allah.Totalitas cinta dalam Gereja katolik dimurnikan dan diikat dalam sebuah sakramen perkawinan yang monogam dan tak terceraikan. Namun karena yang disatukan adalah dua pribadi laki-laki dengan lawan jenisnya yaitu perempuan yang masing-masing memiliki kehendak bebas maka dalam perjalanannya merupakan proses yg tidak mudah. Sepanjang jaman selalu ada godaan untuk mengkaburkan ikatan ilahi itu. Seperti dalam kisah Injil hari ini Yesus menangkis pertanyaan kaum Farisi yang menginginkan perceraian. Dalam Injil hari ini:

“Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu”.

Tidak semua orang menyadari bahwa yg disatukan Allah dalam sebuah ikatan perkawinan yg suci dan sah adalah pribadi perempuan dengan lawan jenisnya. Karena namanya lawan , tentu menjadi tidak mudah dalam mendamaikan keduanya sepanjang waktu. Sifat, selera, kecenderungan, karakter, minat, jati diri dan semua hal lain dari 2 pribadi tersebut bisa berlawanan juga. Namun justru disitulah jalan panggilan kekudusan dan kesucian disediakan bagi pasangan yg terus bertahan hingga akhir. Kebahagiaannya akan terjadi jika 1 + 1 = 1 artinya suami + isteri = satu mahligai. Supaya hasilnya 1 maka masing – masing perlu menurunkan 1/2 dari egonya sendiri, idenya sendiri, kehendaknya sendiri, seleranya sendiri, cita – citanya sendiri menjadi satu. Hal ini tidak mudah tetapi rahmat tersedia bagi yg mencintai dan merelakannya untuk mau membangun kebahagaiaan dan kekudusan hidup berkeluarga.Namun kemajuan dunia yg makin individualis juga berdampak dalam membangun hubungan kesetiaan dalam hidup perkawinan.Semoga pasangan-pasangan Kristiani makin matang dalam mengelola cinta hingga mampu mencintai satu sama lain tanpa ukuran. Kebahagiaan pasangan, akan menjadi tanda kebahagiaan keluarga, dan membawa dampak pada kebahagiaan generasi baru….mari kita doakan agar semua pasangan kristiani mampu bertahan utk saling setia dan bahagia dengan mencintai tanpa ukuran yg membuat kehidupan ini menjadi lebih berkualitas dan membawa keselamatan.
Jangan takut gagal untuk mencintai, karena ukuran mencintai yang sejati adalah mencintai tanpa ukuran. Berjuanglah dengan damai untuk setiap langkah kecilmu.

Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga, rasa, budi dan kehendak agar menopang kita dalam kekudusan.

Actuating
Membiasakan diri hidup apa adanya. Menerima setiap kelemahan dan mengolahnya menjadi kekuatan utk berjuang maju.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dan belajar hidup untuk mencintai.

Praying
Allah Bapa kami, kuduskanlah jiwa kami, pikiran kami, hati kami, tubuh kami agar seluruh hidup kami hari ini dapat kami baktikan untuk kemuliaan-Mu dan keselamatan sesama dan diri kami sendiri. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *