SECERCAH HENING
Rabu, 29 Maret 2023
Yoh 8: 31-42
“Menjadi murid”
Kecil tertatih di simpang jalan,
Menangis di sudut buritan,
Linglung di tengah arus jaman,
Tuntun aku di jalan kebenaran.
Bergelimang media terpampang,
Kutapaki jalan serampang,
Rindu tuk kembali pulang,
Dekap aku tanpa jarak pandang.
Satiap kakimu melangkah, Tuhanlah yang menuntunmu, namun kadangkala kehidupan yang keras, membawamu berjalan di luar kehendakNya. Kembalilah dan dengarkan setiap SabdaNya, Ia dekat di hatimu, bahkan Ia ada di setiap tetesan air matamu. Dan teruslah belajar sebagai murid dalam kehidupan ini.
Masih ingatkah kita ketika menjadi murid? Atau malah saat ini sedang belajar menjadi murid? Lepas gurunya seperti apa, entah ‘killer’, atau ‘friendly’, atau ‘fashionable’, atau good looking, atau galak atau penyayang. Tetaplah sebagai murid harus belajar dari gurunya. Lepas guru itu sebagai satu satunya sumber belajar atau tidak.Tetaplah guru sebagai inspirator dalam belajar. Namun apakah semua guru bisa layak menjadi guru di jaman ini? Tidak!!! Menurut Bapa Suci, hanya pribadi yg menjadi ‘saksi’ yang layak menjadi guru utk murid. Demikian juga dalam Injil hari ini:
Yesus berkata:
“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu. “
Menjadi murid dalam konteks Yesus adalah berkorelasi erat dengan firman Tuhan. Kita dengan dibabtis secara definitif diangkat menjadi murid. Namun yg benar-benar murid adalah yg tetap dalam firman-Ku artinya yg hidup mendasarkan sabda itu nyata dan menjadi penuntun perilaku. Firman bukan hanya dipahami sebagai buku atau kitab, tetapi berkisah tentang seorang pribadi yg kita imani dan ikuti. Karena kita bukan mengimani kitab tetapi mengimani dan mengikuti seorang pribadi yaituYesus. Maka menjadi murid berarti menjadikan pribadi dan ajaran Yesus menyatu dalam hidup kita. Artinya sebagai murid berarti menjadikan seluruh perilaku hidup kita menunjukkan kehormatan dan kemuliaan Tuhan, bukan kehormatan pribadi. Marilah kita belajar menjadi murid untuk memilih: yang baik,-yang benar, – yang sopan, – yang suci sebagai jalan titian untuk menaiki tangga kekudusan. Semoga setiap hal baik sekecil apapun dapat kita mulai diri kita sendiri. Dengan keyakinan ” aku adalah murid pertama dalam setiap kata yg kita ucapkan”. Sebelum saya meminta orang lain berbuat kebaikan sekecil apapun, aku belajar melakukannya untuk diri sendiri yang terus belajar dari Sabda Allah.
Jangan risaukan hatimu dengan hal-hal yg menjauhkanmu dari jangkauan Allah, kembalilah pada jalan Tuhan, Tuhan rindu memelukmu di jalan yg Ia tunjukkan dalam setiap Sabda yg kau dengar. Kembalilah di jalanNya.
Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, hati dan budi kita agar makin mampu mendengar sebagai seorang murid.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kita ubah dan biasakan agar makin matang dalam menghayati tiap firman Tuhan.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku makin matang dan percaya akan penyelenggaraan Allah dalam hidupku.
Praying
Yesus aku mencintai-Mu dan ingin terus hidup dalam cinta-Mu namun untuk hal itu hanya firmanlah yg bisa menjadi peganganku. Maka ajari aku menjadi pelaku firman yg tulus bukan dari kata kata tetapi dari sikap,tindakan dan seluruh hidupku oleh karena kekuatanMu. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
