SECERCAH HENING
Kamis, 30 Mei 2024
Mrk 10: 46-52
Menyapa raga yg terlelap,
Menerobos jiwa yg gelap,
Memantik kerinduan yg senyap,
Mata gelap menatap dunia gemerlap.
Melihat dunia dgn terkesiap,
Kagum oleh mukizat yg tergurat,
Tatapan mengubah hidup dgn dasyat,
Mujizat hadir oleh iman yg kuat.
Ada pepatah “Cinta lahir pada pandangan pertama”.Dan setelah padangan pertama itu seluruh kesaccdaran seakan dirasuki untuk terus ingin memandangnya lagi, dan berkobar untuk memikirkannya lagi, mengenangnya lagi dan mata kasih itu berubah wujud menjadi energi positif yg saling mengada pandangan itu menyertakan peran indera untuk bisa melihat. Demikian dalam hubungan kita dengan Allah, sering banyak diwarnai oleh kemampuan kita memandang. Doa dalam konteks tertentu juga diartikan memandang, memandang ini adalah proses mematangkan relasi, yg mau tidak mau membutuhkan waktu.
Kadang kita sering merasa tidak punya banyak waktu untuk berdoa, bahkan sangat sulit untuk berdoa, bingung akan omong apa dalam doanya, tanpa sadar kita seakan menempatkan Tuhan itu ‘buta’ tidak bisa melihat apapun keadaan kita, sehingga perlu kita memberitahu banyak hal tentang hidup kita. Padahal sesungguhnya, keadaan kitalah yg buta, tak mampu menjangkau kedalaman kasih Allah dalam hidup.Padahal sebenarnya hanya butuh 1 hal yang perlu yaitu memberi ruang terbuka untuk Tuhan hadir dan kita dimampukan untuk melihatnya.Maka kalau kita dimintai satu permintaan kepada Tuhan, cukuplah minta saja : Kita mampu melihat bahwa Tuhan menyertai kita maka semua yg terpenting dalam hidup akan terpenuhi. Seperti dalam dialog singkat bacaan Injil hari ini:
“Yesus berkata kepada orang buta si pengemis yg duduk dipinggir jalan: “Apa yang kau kehendaki supaya Aku berbuat bagimu? Jawab orang itu “Rabuni supaya aku dapat melihat! “.Yesus berkata:”Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”
Pandangan pertama yg nge-klik, tak perlu banyak kata, satu kalimat dan sekilas pandangan saja, mampu menembus kedalaman yg merasuk,merangkul, memahami dan mengubah banyak hal. Itulah yg dialami si pengemis buta saat bertemu dengan Yesus. Tidak begitu banyak dijelaskan apakah si buta sudah mengenal Yesus sebelumnya atau tidak, yg pasti ia pernah mendengar tentang Yesus dari cerita banyak orang. Saat ia berjumpa dan bertemu pandang secara pribadi dengan Yesus mengubah hidupnya dengan dasyat.Yang menyembuhkan kebutaannya adalah kerinduannya untuk berjumpa dan bertemu pandang dengan Yesus. Semoga kitapun juga memiliki kerinduan untuk melihat dan bertemu pandang dengan Yesus setiap hari. Dan rela menyediakan waktu untuk perjumpaan yg mengubah, selama 24 jam sehari dalam hidup kita, berapa persenkah waktu kita sediakan untuk berjumpa dengan Yesus? Adilkah kita dengan kehidupan ini? Sementara jika kita bersusah semua urusan kita serahkan kepada-Nya?. Semoga mata hati kitapun senantiasa terbuka untuk rindu disembuhkan dari kebutaan kita, agar mampu melihat dan menyaksikan kebaikan Allah yg nyata dalam kehidupan kita, dengan kaca mata cinta yg lahir dan dimatangkan oleh kedalaman rasa utk memandang dan saling mengada dalam segala sesuatu.
Janganlah kelu hatimu manakala sakit dan kegelapan mendera, nyatakan dengan teguh kerinduanmu dengan iman, dengan mata hati yg dalam, niscaya kesembuhan dan cahaya hidup akan menghampirimu bersama kedamaian yg akan menyelinap dihatimu.
Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan seluruh kesadaran kita untuk mempererat hidup batin kita dengan Tuhan.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar memiliki waktu yg seimbang untuk berjumpa dengan Yesus.
Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah memperlihatkan buah yg baik dari perjumpaanku dengan Yesus.
Praying
Allah Bapa di surga berilah kami hati yg damai,iman yg kuat. Agar tiap saat adalah saat yg tepat untuk berjumpa dengan Yesus, hingga hidupku disembuhkan dan diperbaharui setiap saat. Demi Kristus Putera-Mu Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
