Jumat, 6 Februari 2026
Peringatan St. Paulus Miki dkk
Mrk 6: 14-29
“Galau”
Jiwa hening menusuk,
Nyaring bisikan halus
Merayu jiwa dengan lembut,
Peluk damai bersambut.
Biarkan senja bercerita,
Kayuh hari tanpa luka,
Jujur dan penuh makna,
Jadilah pewarta sukacita
St. Paulus Miki adalah seorang Jesuit Jepang yang dianiaya dan disalib karena membela imannya dengan pengajaran dan kotbahnya. Kematian dan kemartirannya disambut dengan jiwa pengampunan dan kesatria kasih. Kitapun juga dipanggil mewartakan Injil dan kebenaran iman di tengah situasi hidup yang tidak ideal. Maka Jangan keruhkan hidupmu dengan kegalauan, yang menghalangimu memandang siluet hidup dengan jernih.
Meski kemudahan hidup membuat kita terbuai kenyamanan, apa yang tempo dulu untuk mencapai sesuatu atau mendapatkan sesuatu harus berusaha keras, saat ini semua bisa dipermudah oleh hasil kecanggihan teknologi. Seiring kemudahan itu ternyata membuat kita ‘tidak tahan proses’ termasuk tidak tahan menghadapi konflik-konflik yang justru bisa mematangkan jati diri kita. Realitas macam ini ternyata juga sudah ada dan melanda mentalitas dan hati Herodes seperti dikisahkan dalan Injil hari ini:
Herodes mendengar tentang Yohanes ia berkata :” Bukan, dia itu Yohanes telah kupenggal kepalanya, dan ia bangkit lagi”…. Tetapi apabila mendengarkan Yohanes, hati Herodes selalu terombang ambing.
Herodes selalu galau atau cemas ketika mendengar ada orang yang lebih berpengaruh dibanding dirinya. Meski raja ia tidak sanggup menata hati dan rumah jiwanya sendiri. Hingga lebih banyak dikuasai oleh kegalauannya sendiri dan diombang ambing emosinya yang hampa. Kematian Yohanes yang dipenggal kepalanya oleh serdadu atas suruhan Herodes adalah buah dari kehidupan yang hampa, galau, kosong dari herodes hingga tidak mampu membuat keputusan atau disposisi batin yang tepat. Ia tidak saja diombang ambing oleh kebencian isteri barunya terhadap Yohanes yang menawarkan jalan hidup yang benar, tetapi juga di galaukan oleh kegembiraan tarian si anak tiri yang menjadi alat iblis untuk membunuh kebenaran. Ketika Yesus hadir dalam wujud yang lain iapun galau tak berkesudahan karena hidup batinnya tidak diisi oleh kehadiran Allah. Suara kebenaran yang dibunuh dalam batinnya, menjauhkan dirinya dari kepenuhan hidup yang bersumber dari Allah. Kecemasan atau rasa galau sering menjadi tanda hampanya batin kita dari pengaruh Allah. Maka hidup di jaman yang penuh kegalauan ini, marilah kita belajar dari kegagalan Herodes yang kerajaannya penuh dengan budaya kematian bukan karena ia kalah perang tetapi karena Ia menang dengan membunuh suara kebenaran yang lembut di dasar batinnya. Kehancurannya dimulai dari kesombongannya tidak mau membiarkan Allah merajai hatinya, hingga yg meraja adalah kemanusiaannya yang fana yang jauh dari kebijaksanaan hidup dan keselamatan. Semoga melalui hidup harian kita, pekerjaan kita, keputusan-keputusan kita, kegembiraan kita, bahkan penderitaan kita, kita tetap mampu mengandalkan bimbingan Allah melalui suara kebenaran yang lembut di dasar batin kita. Semoga kita makin terampil mengisi kepenuhan batin dengan kehadiran Allah, melalui hidup yg berpijak dalam jalan kebenaran yang ditunjukkan Yesus. Hingga hidup kita tak lagi dikuasai oleh kecemasan, tetapi sebaliknya sukacita, damai sejahtera,kelemah lembutan dan penguasaan diri dan sikap syukur mewarnai wajah kehidupan kita.
Contemplating
Nikmati setiap tarikan dan hembusan nafas sebagai kesempatan menimba kekuatan Allah.
Actuating
Membiasakan diri mengikuti suara batin terdalam yang menghasilkan keputan yang benar dan mendamaikan meski sulit prosesnya.
Reflecting
Apakah pengalaman demi pengalaman telah mengajariku makin berani hidup sesuai dengan suara kebenaran.
Praying
Allah Bapa, berilah kami hati seperti hatimu, agar diri kami makin terpikat untuk mengandalkan kuasa-Mu dalam perjuangan hidup kami. Karena Engkaulah yg bekerja dalam segala sesuatu. Karena Kristus Tuhan kami Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

