Semangat Kemartiran

SECERCAH HENING
Sabtu, 3 Agustus 2024

Mat 14: 1-12

Kepapan yg mengada,
Menapaki lembah yg fana,
Suara keheningan yg terbuka
Kebenaran tersapa.

Lembut di kala senja,
Bersimpuh lelah bersama,
Mengayuh damai di asa,
Surga menanti dgn segera.

Di jaman millenial saat ini, hidup anak-anak jaman kenyamanannya ditentukan lebih banyak oleh aneka fasilitas dalam besutan jari. Kenyataan hidup tidak membutuhkan proses yg panjang, karena semua bisa dibuat simple dan instan. Semua kebutuhan yang rumit menjadi mudah, yang membutuhkan proses lama dibuat singkat oleh kemudahan gadget dan applicasi, semua bisa dipenuhi dengan online. Semua kebutuhan tinggal pencet nomor semua hal tersedia tanpa mengorbankan waktu dan tenaga. Aneka kemudahan hidup ini membuat semua orang terobsesi ingin hidup sukses dan bahagia tanpa perjuangan, tanpa kesulitan, tanpa mati raga. Demikian juga menyangkut hal rohani. Hal ini menjadi sangat berlawanan dengan semangat kemartiran yang ditawarkan Yesus dalam Injil hari ini:

“Inilah Yohanes Pembabtis, ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya”.

Kita ingat dalam kisah Injil disampaikan bahwa Yohanes Pembabtis dibunuh karena keberaniannya menyuarakan kebenaran dan keadilan yang identik dengan melawan kekuasaan raja Herodes. Keberanian seperti ini juga menjadi ciri dan karakter murid perdana Yesus. Seperti Yohanes mereka mengikuti teladan Yesus Sang guru yang juga menjadi korban ketidakadilan. Semangat kemartiran Yohanes hendaknya juga menjadi semangat pengikut Kristus zaman ini. Berani menyuarakan kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat. Saat ini semangat kemartiran kristiani semakin redup. Maka Gereja dan para pemimpin religiuspun tengah menggerakkan para anggota untuk menjadi mistikus dan nabi di tengah Gereja dan masyarakat. Dengan dibabtis kita semua diundang Yesus dalam peran apapun untuk memiliki semangat kemartiran yaitu berjuang mengupayakan hidup yang benar di tengah lingkup kehidupan kita sesederhana apapun yakni di dalam lingkungan kerja, masyarakat dan dimanapun kita berada. Semangat kemartiran Yohanes mengobarkan semangat kita untuk hidup benar dan memperjuangkan kebenaran.Panggilan kebenaran kadang mengambil bentuk yg simple, yang meminta kita keluar dari kenyamanan diri, ego, dan kerapuhan diri yg sering menjadi tempat berlindung yg nyaman bagi diri kita sendiri. Mari jangan takut untuk lelah dan bermati raga keluar dan berpeduli sekecil apapun yg bisa kita buat. Mari bertumbuh dalam keheningan yg memungkinkan kita mengalami kedamaian dan sukacita yg kita bagikan dalam senyuman dan sapaan kecil yg membasahi hati yg tandus dan mengering. Yohanes rela dipenggal kepalanya karena sebuah konspirasi. Dan sekaligus sebuah resiko untuk perjuangan yg menyelamatkan. Kadangkala kita juga harus memenggal kepala kita agar hidup tidak dikendalikan oleh kepala saja tetapi oleh hati yg mengasihi. Hingga karya keselamatan mudah di tembus oleh hati bukan oleh kepala.

Contemplating
Marilah kita satukan jiwa, raga, rasa dalam keheningan,rasakan dan kenali cara Tuhan menuntun kita untuk berani memperjuangkan kebenaran.

Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan agar makin peka terhadap undangan untuk bersaksi tentang kebenaran.

Reflecting
Apakah aneka pengalaman sulit telah mengajariku makin berani memperjuangkan kebenaran.

Praying
Allah Bapa, berilah kami rahmat-Mu untuk berani hidup benar dan memerjuangkan keadilan dan kebenaran dalam hidup kami demi Kristus Tuhan kami Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *