SECERCAH HENING
Rabu, 22 Maret 2023
Yoh 5:17-30
“Spiritualitas Kerja”
Terengah di sudut waktu,
Tergempur target yg memburu,
Pilu menanti tak menentu,
Hati rindu berlabuh padaMu.
Mengendus nafas damaiMu,
Membiarkanku merindu,
Jaring letihku jadi saat hadirMu,
Memeluku dalam tiap sudut lelahku.
Adakalanya kita lelah dan dibentur oleh aneka capaian yg mesti kita tuntaskan, pekerjaan satu usai, muncul pekerjaan lain yg membuat hati terengah di sudut waktu. Jangan takut….berhentilah sejenak nikmati nafas berlalu. Hingga mampu kumaknai pekerjaanku adalah wujud dari integritas pribadiku dan kedalaman imanku. Pekerjaan yg kulakukan tiap hari bukan pertama tama hanya sekedar untuk sebuah pencapaian tetapi sebuah bentuk dari aktualisasi diri atau ekspresi dari integritasku. Atau “aku bekerja maka aku ada”. Atau “Aku ada maka aku bekerja”. Dengan demikian maka pekerjaan yg dilakukan seseorang tidak lepas dari gambaran eksistensi diri manusia. Sama halnya dengan filosofi para pemimpin negeri ini, adanya kabinet kerja mau menggambarkan eksistensi kepemimpinan yg berdaya adalah kepemimpinan yg bekerja. Hal senada juga ditegaskan oleh Yesus dalam Injil hari ini bahwa pekerjaan yang dilakukan-Nya adalah representasi dari gambaran pekerjaan BapaNya.
“Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga…Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya,demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yg dikehendaki-Nya”.
Pekerjaan yang dilakukan Yesus juga tidak jauh dari simbul kedekatan dan integritas-Nya yang sangat erat dengan Bapan-Nya. Hingga perkerjaan yg dilakukan-Nya merupakan cara untuk memuliakan Bapa-Nya. Inilah yg disebut dengan spiritualitas kerja. Spirit yg menjiwai sebuah pekerjaan untuk makin bermakna. Melakukan pekerjaan yang bermakna berarti menyelaraskan pekerjaan kita sehari-hari dengan kehendak Tuhan.Tentu hal ini tidak mudah bagi kita, karena saat menjalankannya akan selalu tarik menarik antara keinginan ego dengan kehendak Allah yg sering bertentangan dengan selera kita. Jika demikian kuncinya adalah menjalin relasi batin yg intens dengan Tuhan saat bekerja agar kehendaknya makin mirip dengan kerinduan kita “deep work”.Buah dari keintiman ini melahirkan rasa kasih dan sayang terhadap pekerjaan sekecil apapun yg kita lakukan dan hasil lebih lanjut akan enak dirasakan oleh sesama. Buah pekerjaan tak akan jauh rasanya dengan proses saat menjalaninya. Jika kita menjalani pekerjaan apapun dengan rasa cinta maka energi positif yg ditimbulkan akan menghasilkan buah yg positif bahkan berkelimpahan. Dari pekerjaan yg kita lakukan membuat kita makin dimatangkan untuk memaknai kerja sebagai bagian dari proses pertobatan.
Jangan berhenti untuk terus bekerja, persembahkan lelahmu di hatiNya yg lembut maka Dia akan menopang tiap kerapuhanmu dengan sukacita dan hidup berkecukupan.
Contemplating
Marilah kita heningkan jiwa, raga, hati dan budi kita agar beroleh damai untuk bisa mengalami kehadiran Tuhan.
Actuating
Membiasakan diri untuk memaknai kerja sebagai ekspresi cinta kita pada Allah.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku makin matang dalam memaknai hidup dan pekerjaan.
Praying
Tuhan Yesus ajari kami memiliki hati yang berbelas kasih seperti Engkau. Sehingga hidup kami layak menjadi perpanjangan tangan-Mu dalam bekerja untuk turut menyempurnakan dunia ini dengan kasih yg berkelimpahan. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
