SECERCAH HENING
Jumat, 14 Oktober 2022
Luk 12: 1-7
“Takut akan Tuhan”
Bagai butir pasir terhampar,
Mengada diantara butiran tertebar,
Kecil diantara lautan menghampar,
Berharga dari semua yg terpapar.
Sepi menepi di ujung hari,
Takut jadi saat menyatu hati,
Setia jadi jawaban berarti,
Mencintai pd jalan tersuci.
Kalau kita ditanya. Apakah yg paling menakutkan dalam hidupmu??? Pasti terdapat aneka jawaban yg terkait dengan kepentingan kita saat ini, misal: takut kena Covid-19, takut gagal, takut ditolak, takut kehilangan seseorang yg dikasihi, takut mati, takut sakit, takut kena bencana, takut menderita, dll. Semua ketakutan itu kalau jujur diakui sesungguhnya bersumber dari kekosongan dan kerapuhan kita dari sisi kemanusiaan kita. Adakah diantara kita yg menjawab takut akan Tuhan? Atau takut ditinggalkan oleh Tuhan? Atau takut menghianati Tuhan? Mungkin sedikit saja yg menjawab demikian. Maka wajar bahwa Yesus dalam Injil hari ini memberikan rambu-rambu kehidupan dalam Sabda-Nya:
“Takutlah Dia, yg setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka.Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutlah Dia!. Bukanlah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sesungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yg dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”
Dalam semangat ini Yesus mengajak kita untuk ‘takut akan Dia’ dalam arti setia mengikuti jalan-Nya dan terus percaya dan mengimani, bahwa Dia ada hadir dan menubuh dalam setiap kebaikan. Takut akan Dia berarti senantiasa hidup setia dalam pengaruh-Nya berarti juga hidup setia dalam bimbingan Roh-Nya. Dalam perjalanan hidup yg menawarkan banyak pilihan ini. Kita perlu memiliki sikap takut akan Tuhan, supaya hati kita ada keterikatan batin yg kuat dengan bimbingan Roh-Nya. Takut akan Tuhan, berarti juga kita berani mempercayakan diri dan keselamatan kita dalam tangan-Nya. Kita tidak lagi perlu takut akan keselamatan kita jika kita berani mempercayakan diri dan setia pada jalan-Nya,karena sekecil rambut kepala kita ada dalam rangcangan-Nya. Takut pada Tuhan untuk melakukan hal yg diluar jalan dan kehendak-Nya, serta berani mempercayakan hidup dalam penyelenggaran-Nya adalah pilihan. Mari kita belajar takut pada Tuhan agar hidup kita ada dalam penyelenggaraan-Nya senantiasa. Takut akan Tuhan membuat kita makin rendah hati dan belajar memiliki kehendak bebas untuk kebaikan dan terikat untuk tidak mengikuti kecenderungan jahat. Janganlah galau hatimu, manakala hidupmu dalam persimpangan jalan. Menepilah sejenak dan dengarkan hatimu, niscaya engkau akan dituntun pada pilihan jalan yg baik dan benar seturut rancanganNya. Meski untuk itu kadang engkau harus mengesampingkan keinginan egomu. Jalanilah hidupmu dengan kesetiaan dan kasih akan Tuhan dan sesama.
Contemplating
Marilah kita heningkan hati, budi, jiwa, budi dan seluruh indera kita, agar kita makin takut akan Tuhan dan berani percaya pada penyelenggaraan-Nya.
Actuating
Pola hidup apa yang perlu kubiasakan dan kuubah agar makin takut akan Tuhan.
Reflecting
Apakah hidupku mudah diombang ambing oleh kesulitan hidup, hingga lupa pada penyelenggaraan Allah, ataukah kita takut akan Tuhan dan berani hidup dalam rancangan-Nya.
Praying
Allah Bapa yang maha kasih. Ajarilah kami peka menangkap dan merasakan karya-Mu yg dasyat dalam hidup kami setiap hari. Dan ajarilah kami takut kepada-Mu,untuk berani mempercayakan hidup sepenuhnya kepadamu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
