SECERCAH HENING
Sabtu, 8 Oktober 2022
Luk 11: 26-28
“Ukuran Kebahagiaan”
Menubuh dalam balutan ragawi,
Memeluk sepi untuk mencintai,
Setia mendengarkan bisikan ilahi,
Hidup bahagia khan menanti.
Sering kita mendengar pepatah, ‘dibalik seorang suami yg hebat pasti disitu ada seorang isteri yg hebat pula’ artinya kehebatan seorang suami bisa terjadi karena balutan kasih sayang dan pendampingan seorang isteri yg hebat pula. Namun jika seseorang itu hidupnya selibat maka kehebatannya banyak ditentukan oleh seorang ibu yg telah mengandung, mengasuh, mendampingi dan menumbuhkan taman kehidupan yang pertama pada usia emasnya dengan penuh kasih sayang. Itu semua terjadi jika dilihat dari ukuran sosial, kemanusiaan dan psikologis
Namun bagi Yesus ukuran kualitas hidup, dan ukuran kebahagiaannya banyak ditentukan oleh kualitas iman dan kesetiaannya rela mendengarkan, dan melaksanakan Sabda menjadi tuntunan hidup yg nyata. Atau hidup dalam Roh. Seperti dikisahkan dalam Injil hari ini:
Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yg telah menyusui Engkau”.Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”.
Jika kebahagiaan dan kualitas hidup seseorang banyak ditentukan oleh faktor sosial,psikologis dan kemanusiaan, maka pada satu titik tertentu orang akan kehabisan tenaga dan kelelahan sampai tingkat dewa akan tetapi kebahagiaan tak jua datang mengintainya. Namun jika ukuran kebahagiaan adalah upaya untuk mencintai, mendengarkan, mengasihi, berpeduli serta berbagi maka dengan sendirinya rahmat kebahagiaan,hadir tanpa permisi, menyertai tanpa ditunggu tunggu. Karena kebahagiaan sejatinya adalah bagaimana kita memberi ruang bagi Yang Ilahi singgah di dasar hati.Dan energinya memeluk setiap rongsokkan ragawi yang dirusak oleh aneka perasaan terluka dan kecewa karena dosa maupun dusta. Semoga inspirasi Injil hari ini membuat kita makin terbuka untuk mendengarkan dan melaksanakan Sabda dengan hati terbuka untuk mencintai kehidupan ini, dan meletakkan ukuran kebahagiaan dalam hubungan yg bermakna dan penuh cinta dengan Allah. Jangan takut untuk memeluk setiap kesesakan hidup ini dengan penyerahan pada kuasa Allah. Andalkan Dia dan peliharalah kedamaian dengan membuka hati dan relakan menepi untuk mendengarkan Tuhan dalam segala sesuatu.
Contemplating
Marilah kita heningkan hati, budi, jiwa raga, rasa, agar makin menyelami dan memandang dunia ini dengan mata Allah.
Actuating
Pola hidup macam apa yg perlu kubiasakan agar makin terbuka untuk mendengarkan Allah.
Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin terbuka dibimbing oleh sikap iman yg mau mendengarkan.
Praying
Allah Bapa kami, berilah kami jiwa yg terbuka dan telinga hati yg rela mendengarkan bisikan-Mu, agar hidup kami makin mengalami kepenuhan dan kebahagiaan karena mengenal Kristus Tuhan dan juru selamat kami. Amin.
Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP
