Ia Tidak Ada Di Sini

SECERCAH HENING
SABTU SUCI
sabtu, 8 April 2023

Mat 28 : 1-10

Ia Tidak Ada di Sini

Embun pagi menyelimuti
Detak pagi menemani
Kubur seakan menanti
Merindu pelukan suci.

Bergegas kuberlari,
Lampaui padas berduri,
Merombak adat yg suci,
Mencari tambatan hati,

Kekosongan mengunci,
Kesendirian tak bertepi,
Harapan menepis diri,
Cinta ini…ikut pergi.

Lampaui batas diri,
Berlari tuk mencari,
Suara memecah sepi
Ia tidak di sini….!!!

Suara itu menyayat hati,
Cinta ini…melukai,
Berteman sepi…,
Tinggal satu janji
Moga bangkit bkn ilusi.

Dalam bayangan imaginer, merenungkan Sabtu Suci adalah saat sungguh sungguh sunyi, semua energi manusiawi terlolosi, ikut terkubur ? mungkin. Tetapi yg pasti saat menyatukan jarak antara ragawi dan ilahi, duniawi dan surgawi, kematian badani dan kebangkitan ilahi. Mungkin saat ini menjadi saat yg paling menyakitkan dibanding pembantaian kemarin, bukan fisik tetapi sakitnya itu di sini lebih dalam. Mengapa ? Jika kita belajar menyatu ragakan dengan hati para murid saat sabtu suci inilah saat paling mengerikan karena Yesus sudah mati, tiada lagi yg dicari,diikuti dan dicintai, hilanglah sebagian jiwa ini, karena belum nampak harapan itu akan terjadi. Namun Sabtu suci ini harus ada agar jarak keterbatasan manusiawi dengan kuasa ilahi makin tampak. Sehingga misi kubur ini menjadi jelas agar kita makin mengandalkan Allah. Sehebat apapun batas manusiawi akan mati.Namun Sabtu suci ini mengajari kita tak selamanya kehilangan itu harus pahit utk terus berduka, tidak selamanya derita hidup harus kehilangan semuanya, tidak selamanya luka karena cinta akan terus menorehkan air mata, tak selamanya kubur itu akhir dari segalanya. Tak selamanya kesepian itu harus merana. Di ujung maut ada kebangkitan, di ujung derita ada sukacita, di ujung luka ada penyembuhan, di ujung kesepian ada persahabatan. Dan itulah kebangkitan yg menjadi harapan dalam tiap titian derita. Semua butuh proses yg harus ikut kita kubur yakni masa lalu yg mengikat kita untuk sulit bangkit. Mari kita keluar dari kubangan kubur masa lalu kita, utk belajar berlari seperti Maria Magdalena sebagai wanita penuh hasrat. Maka ia dipilih sebagai pribadi yg pertama saksi kebangkitan.Ia pelindung pewarta yg penuh hasrat dan vitalitas meniti tangga kekudusan melalui hidup setiap hari.

Contemplating
Mari kita kenali, rasakan peluk kubur masa lalu kita dan angkat bersama Yesus yg bangkit.

Actuating
Mari belajar bertolak lebih dalam mengenali gerak batin kita, Tuhan menyapa apa lewat gelapnya kubur ini?

Reflecting
Sanggupkah mengubur masa lalu yg membelenggu dan bangkit menjadi manusia yg penuh hasrat mencapai tangga kekudusan ?.

Praying
Yesus dalam gelap, sepi, sendiri dan pengapnya kubur telah Engkau hirup. Sebagai bukti kesanggupanMu memeluk titik batas derita dan dosaku.Ajari aku melepas masa laluku yg mengikat diriku untuk sulit keluar dari zona nyamanku. Dan beranikan aku memilih setiap hari untuk bangkitDemi dan meniti kesulitanku sebagai tangga untuk maju dalam.kekudusan bersamaMU. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Selamat memaknai Sabtu yg Suci.
Sr. Albertine.OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *