secercah hening

Identitas Kristiani

SECERCAH HENING
Kamis,12 September 2024

Luk 6 : 27-38

Mengulas sunyi di tepian hari,
Mengayuh kaki gapai yg pasti,
Terus bertumbuh tuk mencintai,
Hingga menjadi nafas bakti.

Mengasihi keluar dari hati,
Tiada musuh di ruang sunyi,
Kepenuhan menjadi bekal diri,
Hingga senja menanti di batas hari.

Paus Fransisku pernah berkata “Hidup itu sangat baik ketika kita bahagia. Tetapi akan jauh lebih baik jika kira bisa membahagiakan orang lain”. Meski kenyataannya membahagiakan orang lain tidaklah mudah karena dalam kehidupan kita, semakin maju peradabannya semakin dijunjung tinggi penerapan hukum dan aturan moral supaya kehidupan manusia makin bermartabat, adil dan mensejahterakan. Namun betapa tidak mudahnya manusia mentaati aturan hukum yg sederhana sekalipun. Prakteknya selalu dicari celah agar bisa dilanggar, karena tahap minimalpun tak bisa ditaati. Demikian juga dalam hidup beriman selalu ada tuntunan moral dan iman agar hidup manusia makin religius untuk mencapai keselamatan. Yesus juga memberikan tuntunan moralitas atau hukum kasih yg perlu ditaati oleh para murid seperti dalam Injil hari ini:
Yesus berkata:

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yg mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yg mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yg satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yg lain…..hendaklah kami murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati”.

Hukum ini bukan hanya standar normatif tetapi standar ideal sebagai orang Kristiani. Mengapa disebut standar ideal? Karena hukum ini melampaui batasan-batasan logika manusia. Bagaimana bisa secara logis mengasihi sesama saja sudah sulit. Apalagi mengasihi musuh. Namun kita tahu menjadi pengikut Kristus tidak bisa setengah -setengah atau suam suam kuku. Identitas Kristiani justru terletak dalam perwujudan semangat kasih ini. Karena Kristus telah melakukannya dan menjadikannya hidup dalam pribadinya. Kita sadar bahwa orang Kristiani sejatinya tidak mengimani hukum kitab tetapi mengimani seorang pribadi yakni Kristus yg hidup-Nya untuk mengasihi tanpa batas. Maka identitas kitapun diharapkan hidup oleh semangat kasih tanpa batasan. Syaratnya apakah kita rela membiarkan hidup kita dirasuki oleh kehadiran-Nya? Inilah dasar kemurahhatian kita karena Tuhan lebih dulu murah hati sebagai identitas-Nya. Semoga identitas pribadi kita mampu kita bangun oleh semangat kasih. Janganlah ragu untuk berbuat kasih, sekecil apapun yg kita bisa buat, meski untuk itu, kita harus melawan ego kita. Namun bagi hati yg mencintai ia akan menjadi bahagia ketika bisa mengasihi.

Contemplating
Mari kita heningkan diri kita, kita sadari tiap tarikan nafas pelan-pelan, sampai ke titik hening, dan mengarahkan diri pada Yesus yg menyapa di dasar batin kita.

Actuating
Membiasakan diri hening, sadari tiap saat adalah saat untuk hidup makin rendah hati.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hening dan menatap kehidupan dengan penuh kasih sebagai identitas diri.

Praying
Tuhan Yesus ajari kami memiliki hati seperti hati-Mu, agar dimanapun kami berada mampu membangun identitas diri untuk hidup dalam dan karena kasih. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *