secercah hening

Mata ketiga

SECERCAH HENING
Jumat, 13 September 2024

Luk 6 : 39-42

Semburat mata gelapkan cara,
Menubuh hingga tak bercahaya,
Lesu menyelimuti fatamorgana,
Tenangkah hati, jernihkan mata.

Menelusup kasih heningkan hati,
Tiarap rendahkan diri,
Peluk balok bersihkan hati,
Fokuskan energi tuk mencintai

Setiap bangun pagi saya baru menyadari bertahun tahun dan telah menjadi pola otomatis, bahwa setelah beranjak dari ranjang tidur tujuan kaki melangkah adalah mengambil segelas air putih kemudian ke cermin utk sisiran dan memastikan melihat wajah. Bukan soal wajahnya bopeng atau tembem. Tetapi memastikan seberapa besar saya berenergi atau seberapa layu saya akan sanggup menyongsong perjalanan sepanjang hari itu. Wajah yg terpancar dan sorot mata yg berbinar akan mempengaruhi cara saya memandang realitas sepanjang hari itu. Dan sorot mata yg mewarnai wajah sesungguhnya lahir dari pancaran rasa syukur atau sebaliknya. Dari secuil potongan refleksi itu mengingatkan saya akan sabda Yesus yg dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini.
Yesus menyampaikan perumpamaan kepada murid-murid-Nya.

“Dapatkah orang buta menuntun orang buta, bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang…. Lebih baik keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu”.

Kata kunci dari sabda ini nampaknya ada pada mata. Ketertutupan mata diberi gradasi buta berarti tidak melihat sama sekali, atau melihat tetapi tertutup balok, atau melihat tetapi juga masih terhalang selumbar. Tingkat keterbukaan mata kita sesungguhnya bukan hanya usaha dan potensi kita semata, tetapi adalah anugerah Allah. Namun di atas itu Allah senantiasa mendorong kita untuk memiliki kepekaan dan keterbukaan, sejauhmana setiap realitas yg kita alami sanggup kita tangkap sebagai wajah Allah menyapa kita. Keterbukaan mata kita atau cara pandang kita semakin terbuka dan positif semakin kita mampu melihat realitas dan keberadaan sesama juga terang dan positif. Tetapi jika mata kita tertutup oleh karena ketertutupan hati kita membuat cara pandang kita terhadap realitas dan sesama jadi gelap dan kurang positif. Dan keterbukaan atau ketertutupan mata juga dipengaruhi oleh hati kita. Jika hati kita penuh damai dan penuh oleh rangkaian pengalaman dikasihi Allah maka mata kitapun akan jernih dan terang dalam memandang realitas dan sesama. Kejernihan mata berasal dari kejernihan hati. Marilah kita setia menjaga hati yg bersih agar mata kita jernih melihat realitas dan sesama dengan positif pula. Jangan gelisahkan hatimu dengan aneka hal yg memperkeruh pendanganmu, tenanglah dan berhentilah sejenak untuk mendengarkan hatimu yg terdalam. Di sana engkau akan rasakan Tuhan yg bersemayam yg akan menjernihkan hati dan caramu melihat realitas.

Contemplating
Sadari tiap tarikan nafas kita menjadi saat hening untuk terarah pada Kristus sumber kejernihan hati .

Actuating
Membiasakan diri memiliki hati yg jernih agar mata kita juga jernih.

Reflecting
Apakah aneka peristiwa hidup, telah mengajariku untuk makin hening dan menatap kehidupan dengan terang.

Praying
Tuhan Yesus ajari kami memiliki hati seperti hati-Mu, agar dimanapun kami mampu menjaga hati, budi dan mata kami yg senantiasa memancarkan cahaya-Mu dalam tingkah laku kami. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

Salam Veritas
Berkah Dalem
Sr. Albertine. OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *