Menyentuh PalunganNya

SECERCAH HENING
Sabtu, 24 Desember 2022

Luk 1:67-79

“Menyentuh PalunganNya”

Memeluk rindu tiada batas waktu,
Menyelelam hening diujung rindu,
Hati menyatu mengusir pilu,
Terlahir dengan hati baru.

Palungan bukan dari kayu,
Mengukir lembut hati yg membatu,
Melukis cinta di tiap waktu,
Memeluk realitas menjadi baru.

Sepanjang hari ini, pasti semua orang sibuk mempersiapkan malam Natal dan hari raya yg penuh damai. Hiasan natal, kandang atau gua natal seakan menjadi asesoris wajib yg mengiringi kerinduan hati yg mendamba damai. Namun apakah harus demikian ?. Nampaknya tidak, setelah saya menengok kembali perjalanan batin, setelah dua ribu tahun lebih setelah Yesus lahir, saya boleh menyentuh replika titik atau mungkin palungan yg sudah tidak lagi berujud palungan di Betlehem. Membuat batin ini tergetar dan berbeda dalam memaknai hari Natal. Natal bukan hanya Yesus lahir di kandang Betlehem dan dirayakan dengan liturgi yg agung….yg semua terjadi di luar diri kita. Tetapi sebuah perayaan akan “makna” yg terpatri dalam batin terdalam hingga membawa perubahan sikap batin. Seperti Injil hari ini yg melukiskan tentang kidung Zakharia.

“Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya….”

Kidung ini tentu tidak langsung ditujukan pada Yesus tetapi pribadi Yohanes yg lahir sebagai perintis jalan bagi kedatangan Yesus Tuhan.
Maka Natal adalah memaknai kisah perlawatan Tuhan yg menyentuh titik batas hidup kita yg paling bawah. Setelah 20 abad lebih Yesus tidak ingin lahir di kandang Betlehem lagi, tetapi di hati setiap orang. Maka marilah hari ini kita lebih fokus menata batin kita, jangan kandangkan Yesus di gua yg kita buat artistik di Gereja dan di rumah rumah kita saja. Tetapi mari kita jadikan hati kita juga palungan-Nya yg paling nyaman. Mari kita sentuh palungan batin kita untuk mohon dibersihkan hari ini agar Yesus terlahir dipalungan hati kita. Hingga sinar kelahiran-Nya memancar dalam wajah kita, tutur kata kita, pikiran kita, tindakan kita yg damai. Semoga palungan batin kita layak disinggahi Yesus, dan kitapun layak disentuh dan menyentuh palungan itu agar lahirlah Yesus secara baru dalam energi cinta dari hati yg terdalam. Itulah natal….mengapa malam itu disebut malam kudus karena luka dan cinta menjelma menjadi satu raga yg tak berbatas…bisa lahir dimanapun. Mari kita bersihkan palungan hati kita dengan cinta supaya Dia pun lahir dibatin kita terdalam, hingga hati terus bersenandung Gloria In Excelcis Deo.

Contemplating
Mari kita heningkan jiwa raga kita, kita sentuh palungan-Nya agar hati kitapun layak menjadi gua ternyaman bagiNya.

Actuating
Mari kita biasakan menjadikan setiap kata, dan tindakan mampu menjadi saat melahirkan Yesus yg membawa damai.

Reflecting
Apakah hidupku setiap hari telah menjadi palungan yg nyaman untuk melahirkan misi Yesus yg membawa damai bagi sesama.

Praying
Bapa di surga, syukur atau perjalanan iman yg mengantarkan kami kembali untuk boleh merayakan kelahiran Yesus di Palungan. Layakanlah hati kami juga menjadi palungan yg nyaman untuk lahirnya bayi Yesus yg membawa damai. Hingga hidup kami menjadi suara kedamaian bagi sesama. Demi Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.

Gloria in Excelcis Deo
Berkah Dalem
Sr.Albertine.OP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *