SECERCAH HENING
Senin, 26 Desember 2022
Mat 10:17-22
“Misi Palungan”
Perayaan Natal yg suci, agung dan meriah telah usai. Meski secara liturgis kita masih berada pada masa natal. Namun suasana kehidupan Gereja umat Allah sudah kembali seperti biasa. Namun suasana yg biasa ini menjadi istimewa setelah kita merayakan kelahiran Yesus. Gema pujian Natal yang agung dan suci hanya akan berarti jika membawa perubahan semangat dan sikap setelah perayaan usai. Seperti halnya palungan Bethelem tidak akan menjadi tempat kelahiran kembali namun makna yg terjadi sekali itu membawa misi yg abadi. Sukacita karena terang yg datang harus diwartakan dan disaksikan kepada segala bangsa pada semua jaman. Misi dari makna palungan Betlehem mengajak kita hidup dalam terang, yakni hidup dalam sukacita karena kebenaran. Makna ini amat sulit dan penuh resiko ketika diterapkan dalam kehidupan nyata, karena dunia di sekitar kita penuh dengan selera hidup dlm kegelapan yakni : Pola hidup korup, manipulasi, budaya instan, konsumerisme, hedonisme, budaya kekerasan dan merebaknya ujaran kebencian, dll. Misi Palungan mendorong kita hidup yg terus diterangi semangat kebenaran. Sebagaimana Injil hari ini:
Yesus bersabda:”Waspadalah terhadap semua orang, karena ada yg akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya…tetapi orang yg bertahan sampai kesudahannya akan selamat”.
Adakah orang yg sanggup bertahan sampai kesudahannya dalam mengemban misi palungan? Ada yaitu St. Stefanus. Karena mewartakan iman dan kebenaran ia harus menanggung resiko dibunuh sebagai martir, namun Rohnya mengalami kedamaian dan keselamatan. Peringatannya diletakkan persis setelah Natal, untuk mengingatkan kita bahwa Natal yg agung harus menampakkan jejak dan bekasnya dalam hidup dengan berani melawan arus yg bisa membawa kita pada budaya kegelapan sebagai misi Palungan. Apakah kesadaran ini juga tertanam dalam pola hidup kita, hingga bekas jejak natal bukan hanya, kenangan kelelahan bongkar gua,pembubaran panitia natal, atau sisa parcel yg mulai basi dan layu. Tetapi out of box kita dipanggil untuk berani menampakkan jejak Natal dengan semangat hidup yg baru, berpihak pada hidup yg benar dan meninggalkan gaya hidup yg melanggar cinta kasih dan misi palungan yg terang, damai, suci, sukacita dan kesederhanaan.Kita tidak harus seperti St. Stefanus yg mati di tengah kehidupan sbg martir, tetapi minimal berani hidup di tengah kematian nurani dengan hidup yg benar.
Contemplating
Mari kita heningkan jiwa, raga,rasa, hati, budi dan hati untuk menyelami suasana Natal yg kudus, dengan mendekatkan diri pada kehadiran Allah.
Actuating
Pola hidup apa yg perlu kubiasakan dan kuubah agar berani mewujudkan misi Palungan.
Reflecting
Semangat pembaharuan apa yg akan saya wujudkan mulai hari ini, sebagai amanat Natal atau mewujudkan misi Palungan.
Praying
Bapa kami bersyukur boleh melewati perayaan Natal dengan penuh damai, semoga jejak jejak baik perayaan ini, dapat kami wujudkan dengan hidup yg makin bersemangat untuk kebaikan dan berani menanggung resiko, karena yakin seberat apapun akan dapat kami tanggung karena Engkau beserta kami. Karena Kristus Tuhan kami. Amin.
Selamat Hari Raya Natal
Shallom.
Sr. Albertine. OP
